Mengenal Jenis Erupsi Gunung Api

Pada Jumat (11/5), sekitar pukul 07.40 WIB, Gunung Merapi mengeluarkan asap tebal ke udara. Menurut laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi dari Gunung Merapi ini bersifat freatik.Sebenarnya apa itu freatik? Dan apakah ada jenis erupsi lainnya?

Dari penjelasan Grant Heiken, peneliti geologi dari Los Alamos National Laboratory, dalam sebuah studi yang diajukan pada Proceeding First International Symposium on Volcanic Ash and Aviation Safety, ada empat jenis karakteristik erupsi gunung api.

1. Magmatik
Jadi, erupsi tipe magmatik terjadi karena adanya tekanan tinggi pada magma. Tekanan yang tinggi ini timbul akibat adanya gas yang keluar dari larutan magma karena magma tersebut semakin mendekati permukaan Bumi dan mendapat tekanan atmosfer.

2. Freatik
Erupsi inilah yang dilaporkan oleh PVMBG terjadi di Gunung Merapi. Martanto menjelaskan bahwa jenis erupsi yang satu ini terjadi bukan karena magma.Kondisi ini kemudian menyebabkan penguapan dan uap ini kemudian memberikan tekanan sehingga akhirnya menyebabkan letusan karena tekanan sudah terlalu tinggi.Dijelaskan oleh Heiken bahwa jenis erupsi ini sangat mungkin terjadi pada banyak jenis gunung api bahkan di daerah geotermal yang tidak memiliki aktivitas vulkanik.

3. Hidrovulkanik atau Freatomagmatik
Erupsi hidrovulkanik terjadi ketika adanya pertemuan antara magma dengan air tanah ataupun air dari permukaan sehingga suhu air tanah atau air permukaan itu menjadi tinggi.Dijelaskan dalam studi Heiken bahwa terjadinya peningkatan suhu air secara cepat ini menghasilkan kondisi yang lebih eksplosif dibanding erupsi yang hanya disebabkan oleh tekanan dari magma saja.Erupsi dengan karakteristik ini menghasilkan debu volkanik dengan ukuran yang kecil dan dapat terbawa hingga ratusan ribu kilometer.

4. Pecahan Magma
Jenis erupsi ini terjadi saat adanya abrasi atau pengikisan magma saat ia sedang berada di corong gunung api dan bergerak dengan sangat cepat.Dijelaskan bahwa mekanisme ini dapat terjadi ketika adanya runtuhan atau longsor, seperti yang terjadi pada erupsi Gunug St. Heles pada 1980.

Artikel Asli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *